Looking Beyond

Di tulisan lalu saya menulis judul tentang kemampuan visibility 2 m ke depan. Maksudnya apa? Kenapa tidak 1 m atau 3 m ke depan?

Kira-kira ini jawabannya….

Bayangkan sebuah horison….itulah titik terjauh yang bisa kita lihat di permukaan bumi. Ada apakah di balik horison? Tak bisa kita lihat, kan? Bagaimana caranya supaya kita tahu apa yang ada di balik horison? Itulah inti pengertian dari ‘melihat 2 m ke depan’. Kita memang tidak bisa melihat apa yang ada di balik horison, tapi kita bisa ‘tahu’ apa yang ada di sana.

Caranya?

Itulah cantiknya konsep human modeling atau NLP. Kita bisa tahu apa yang ada di balik horison hanya dengan ‘belajar’ dari mereka yang ada di horison kita. Bertanya kepada mereka, menyimak apa yang mereka ceritakan, dsb, tentang apa yang ada di sana. Dari situlah kita bisa tahu, apa yang tidak bisa kita lihat.

Jadi, ketika saya menulis ‘Yang Bisa Kita Lihat Hanya 2 m Ke Depan’, pada saat itu juga saya menganjurkan untuk Looking Beyond, melihat apa yang ada di balik horison, dengan memanfaatkan orang-orang yang memang sudah ada di horison pandangan atau pikiran kita.
Misal, saya menggunakan mata dan pikiran Robert Kiyosaki untuk melihat apa yang tidak bisa saya lihat (karena keterbatasan horison pemikiran saya). Ketika saya memilih seorang Guru, saya meminjam horison-nya untuk memperluas horison saya. Di situlah saya bisa Looking Beyond. Kalau tidak begitu, seumur-umur kita tetap akan jadi katak….di dalam tempurung.

Nah, go outside, looking beyond….Maka kita pun akan melihat bahwa ternyata ‘Dunia ini Lebih Luas dari yang kita kira’.

A man is flying in a hot air balloon and realizes he is lost. He reduces height and spots a man down below. He lowers the balloon further and shouts:

“Excuse me, can you help me? I promised my friend. I would meet him half an hour ago, but I don’t know where I am.”

The man below says, “Yes, you are in a hot air balloon, hovering approximately 30 feet above this field. You are between 40 and 42 degrees North latitude, and between 58 and 60 degrees West longitude.”

“You must be a programmer,” says the balloonist.

“I am,” replies the man. “How did you know?”

“Well,” says the balloonist, “everything you have told me is technically correct, but I have no idea what to make of your information, and the fact is I am still lost.”

The man below says, “You must be a project manager”

“I am,” replies the balloonist, “but how did you know?”

“Well,” says the man, “you don’t know where you are or where you are going. You have made a promise which you have no idea how to keep, and you expect me to solve your problem. The fact is you are in the exact same position you were in before we met, but now it is somehow my fault.”

If you get in my way, I’ll kill you! – ideal project manager
If you get in my way, you’ll kill me! – somewhat less than ideal project manager
If I get in my way, I’ll kill you! – somewhat misguided project manager
If I get in your way, I’ll kill you! – A tough project manager (eats glass, live cats, etc.)
If get kill in will way I you. – dyslexic, functionally illiterate project manager
I am the way! Kill me if you can! – messianic project manager
Get away, I’ll kill us all! – suicidal project manager
If you kill me, I’ll get in your way. – thoughtful but ineffective project manager
If I kill you I’ll get in your way. – project manager who has trouble dealing with the obvious
If a you getta ina my way, I gonna breaka you arm. – project manager from New York
I am quite confident that there is nothing in the way, so no one will get killed. – project manager who is about to get in big trouble
If you kill me, so what? If you get in my way, who cares? – weak, uninspired, lackluster project manager
If you kill me, you’ll get your way. – pragmatic project manager
If we get in each other’s way, who will get killed? – An utterly confused manager
Kill me, it’s the only way. – every project manager to date.

Berfikir Intuitif

Kemarin main teka-teki dengan anak-anak, ‘Kenapa pohon di pinggir jalan, kalau sudah tua ditebang?’.

Kira-kira jawabannya apa?

Jawabannya, ‘Kalau dicabut kan susah?’

Judul di atas saya mulai dengan teka-teki, karena begitulah Blink. Konsep berfikir intuitif bermula dari premis bahwa manusia cenderung ‘berasumsi’ dan terjebak dalam prasangka tertentu. Maka, ketika diajukan teka-teki di atas, sebagian orang mungkin berprasangka pada persoalan ‘pohon tua di pinggir jalan.’ Sebagian lain mungkin berprasangka pada persoalan ‘ditebang’ (tapi sepertinya hanya sedikit yang langsung pada prasangka ini).

Ketika asumsinya, ‘Kenapa sebuah POHON TUA DI PINGGIR JALAN harus ditebang?’, maka otak kita mencari jawaban untuk PEMBENARAN atas tindakan MENEBANG. Tapi ketika asumsinya, ‘Kenapa sebuah pohon tua di pinggir jalan harus DITEBANG?’, maka otak kita mencari jawaban untuk ALTERNATIF selain DITEBANG.

Di sinilah masalahnya. Ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, terkadang asumsi kita terlalu sempit sehingga tidak bertemu dengan solusi kreatif. Itulah gunanya teman :D . Kadang-kadang teman yang nyeleneh itu mampu memberikan perspektif lain yang mungkin buat kita tak sempat terpikirkan.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »