Saya teringat bahwa waktu kelas 4 SD saya pernah membaca buku yang berjudul Marewo, karangan orang Belanda. Buku itu menginspirasi saya sampai hari ini. Dan inspirasi itu ingin saya bagi di sini.
Dikisahkah bahwa nenek moyang bangsa Indonesia ini adalah berasal dari suku bangsa Yunan (suatu daerah di Indo China atau Vietnam sekarang). Marewo ini adalah seorang anak kepala suku dari salah satu suku yang ada di daerah Yunan tersebut.
Pada suatu hari, Marewo bermimpi mendapat wangsit untuk pergi bersama sukunya mencari daerah baru yang subur dan makmur. Wal hasil, setelah melakukan ritual panjang dan persiapan panjang, akhirnya berangkatlah Marewo untuk mencari daerah tersebut. Informasi yang diperoleh lewat wangsit ini serba sedikit. Hanya dikatakan bahwa dia harus berlayar ke Selatan, sampai menemukan sebuah pulau yang penuh dengan pohon nyiur.
Singkatnya, berlayarlah Marewo dan sukunya ke Selatan demi menuju pulau cita (padahal dia di Yunan berkecukupan). Perjalanannya menggunakan perahu bercadik (saya akhirnya pernah melihat jenis perahu ini waktu jalan-jalan ke Sumbawa).
Setelah beberapa bulan, rupanya rombongan Marewo terbawa arus sehingga mendaratlah di daerah Semenanjung Melayu. Teman-temannya bertanya, ‘Apakah ini tempatnya?’. Bukan, kata Marewo, bukan ini tempatnya. ‘Tapi kita harus tinggal dulu di sini untuk menyiapkan bekal yang sudah menipis.’ Maka tinggalah rombongan ini di Semenanjung untuk beberapa bulan sambil bertanam padi. Bahkan ada beberapa orang yang sempat berasimilasi dengan penduduk lokal (alias kawin campur).
Selepas panen, Marewo mencanangkan kembali untuk melanjutkan pergi ke pulau cita. Begitu terus beberapa kali dialami oleh Marewo dan tim-nya. Sampai pada akhirnya, mereka yang kelelahan ini terdampai di sebuah pulau….Sepanjang pulau itu penuh dengan nyiur.
‘Inilah dia’, kata Marewo. ‘Inilah pulau cita itu.’
Itulah penggalan kisahnya. Saya ceritakan dari versi saya
.
Apa moral yang bisa dipetik dari cerita ini?
Saya katakan kepada kawan-kawan saya. ‘Kita punya cita-cita. Yang kita tahu hanya arah dan ujud impian itu seperti apa. Tapi kita tidak tahu jalannya. Tidak tahu berapa sungai harus dilalui, berapa gunung harus didaki, berapa jurang harus diseberangi. Yang kita punya hanya sebuah lilin yang dapat memberi nyala terang kepada kita untuk jarak 2 m ke depan. Kita tidak hati-hati, lilin itu pun mati. Apakah kita akan berhenti, dan menunggu lilin itu mati? Atau kita mencoba melangkah ke arah impian kita sambil menjaga agar lilin itu tidak mati? Pilihan ada di kita.’
Lilin itu adalah value (nilai-nilai hidup) dan belief (keyakinan). Semua manusia memegang lilin di tangannya. Tapi ada yang menggunakannya untuk berjalan beberapa langkah saja, ada yang digunakan untuk mencari sesuatu (berputar-putar di situ-situ saja), ada yang digunakan untuk penerangan (diam, termangu, menanti kapan lilin ini mati), tapi ada juga yang dengan tertatih meniti kesulitan hidup ini dengan gembira dan penuh impian akan cita-cita.
Mereka itulah yang selalu ‘membara-kan’ lilin-nya di dalam dada. Mereka tidak takut untuk berjalan, walaupun yang bisa dia lihat hanya 2 meter ke depan saja. Karena dia yakin bahwa yang dia impikan ada di sana, dan sedang menanti di sana. Jatuh, sakit, terpeleset, terbentur, hanya membawa kegembiraan. Baginya, itu semua adalah hiburan, bukti cinta kasih Allah terhadap yang berIman.
Nantikan daku…dan kau pun kurengkuh.
pak saya udah bayangin nich pake kalo nilai jarkom saya A. tapi gmn sama kenyataannya ya pak?? he….3x
btw,gmn sich pak caranya biar Qta bisa sholat itu kusuk bgt? ga pa2 kan pak rada menyimpang