Updates from April, 2008 Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • rachmatg 10:03 am pada April 4, 2008 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Menjaga Bara 

    Ini dari lagu-nya Bimbo lagi,
    Kemana akan pergi
    Mencari api
    Ketika Bara Hati
    Padam Tak Berarti

    Melanjutkan yang kemarin soal ‘yang kita tahu hanya 2 m ke depan’. Sekarang pandanglah lilin itu sebagai sebuah bara. Di manakah bara bisa menimbulkan nyala dan panas luar biasa? Mungkin jawabannya adalah di dalam tanur.

    Betapa sekumpulan bara yang bergabung di dalam sebuah tanur bahkan dapat melelehkan besi dan mengubah karat menjadi cairan besi.

    Tapi cobalah keluarkan sebuah bara dari tanur tersebut, bawalah pergi menjauh. Apakah yang terjadi? Bara itu pun meredup……mungkin malah mati.

    Kita, yang merasa ‘membarakan lilin di dalam dada’, telah merasa betapa berat mempertahankan bara hati agar tak padam. Seperti halnya air laut yang mengalami pasang dan surut, begitu pun dengan bara hati ini.

    Pertanyaannya, pernahkah kita sadari di manakah ia bisa pasang dan di manakah ia bisa surut?

    Seperti halnya bara-bara yang berkumpul di dalam tanur, mereka mendapatkan lingkungan yang baik untuk mengeluarkan potensinya secara maksimal, dibandingkan mereka yang terpisah dan bersendiri.

    Nah, dalam kita berjalan menapaki malam ini menuju pulau cita, berkumpullah dalam sebuah tanur. Di sanalah setiap bara akan berbagi untuk mengeluarkan potensi optimalnya.

    Share your vision, share your dreams, share your commitment. Let’s other know what you want and what you commit on. And, let’s you listen….listen your whispers.
    Hope you can join us in this journey.

     
  • rachmatg 2:54 pm pada April 2, 2008 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Yang Kita Tahu Hanya 2 m Ke Depan 

    Saya teringat bahwa waktu kelas 4 SD saya pernah membaca buku yang berjudul Marewo, karangan orang Belanda. Buku itu menginspirasi saya sampai hari ini. Dan inspirasi itu ingin saya bagi di sini.

    Dikisahkah bahwa nenek moyang bangsa Indonesia ini adalah berasal dari suku bangsa Yunan (suatu daerah di Indo China atau Vietnam sekarang). Marewo ini adalah seorang anak kepala suku dari salah satu suku yang ada di daerah Yunan tersebut.

    Pada suatu hari, Marewo bermimpi mendapat wangsit untuk pergi bersama sukunya mencari daerah baru yang subur dan makmur. Wal hasil, setelah melakukan ritual panjang dan persiapan panjang, akhirnya berangkatlah Marewo untuk mencari daerah tersebut. Informasi yang diperoleh lewat wangsit ini serba sedikit. Hanya dikatakan bahwa dia harus berlayar ke Selatan, sampai menemukan sebuah pulau yang penuh dengan pohon nyiur.

    Singkatnya, berlayarlah Marewo dan sukunya ke Selatan demi menuju pulau cita (padahal dia di Yunan berkecukupan). Perjalanannya menggunakan perahu bercadik (saya akhirnya pernah melihat jenis perahu ini waktu jalan-jalan ke Sumbawa).

    Setelah beberapa bulan, rupanya rombongan Marewo terbawa arus sehingga mendaratlah di daerah Semenanjung Melayu. Teman-temannya bertanya, ‘Apakah ini tempatnya?’. Bukan, kata Marewo, bukan ini tempatnya. ‘Tapi kita harus tinggal dulu di sini untuk menyiapkan bekal yang sudah menipis.’  Maka tinggalah rombongan ini di Semenanjung untuk beberapa bulan sambil bertanam padi. Bahkan ada beberapa orang yang sempat berasimilasi dengan penduduk lokal (alias kawin campur).

    Selepas panen, Marewo mencanangkan kembali untuk melanjutkan pergi ke pulau cita. Begitu terus beberapa kali dialami oleh Marewo dan tim-nya. Sampai pada akhirnya, mereka yang kelelahan ini terdampai di sebuah pulau….Sepanjang pulau itu penuh dengan nyiur.
    ‘Inilah dia’, kata Marewo. ‘Inilah pulau cita itu.’
    Itulah penggalan kisahnya. Saya ceritakan dari versi saya :D .

    Apa moral yang bisa dipetik dari cerita ini?
    Saya katakan kepada kawan-kawan saya. ‘Kita punya cita-cita. Yang kita tahu hanya arah dan ujud impian itu seperti apa. Tapi kita tidak tahu jalannya. Tidak tahu berapa sungai harus dilalui, berapa gunung harus didaki, berapa jurang harus diseberangi. Yang kita punya hanya sebuah lilin yang dapat memberi nyala terang kepada kita untuk jarak 2 m ke depan. Kita tidak hati-hati, lilin itu pun mati. Apakah kita akan berhenti, dan menunggu lilin itu mati? Atau kita mencoba melangkah ke arah impian kita sambil menjaga agar lilin itu tidak mati? Pilihan ada di kita.’

    Lilin itu adalah value (nilai-nilai hidup) dan belief (keyakinan). Semua manusia memegang lilin di tangannya. Tapi ada yang menggunakannya untuk berjalan beberapa langkah saja, ada yang digunakan untuk mencari sesuatu (berputar-putar di situ-situ saja), ada yang digunakan untuk penerangan (diam, termangu, menanti kapan lilin ini mati), tapi ada juga yang dengan tertatih meniti kesulitan hidup ini dengan gembira dan penuh impian akan cita-cita.

    Mereka itulah yang selalu ‘membara-kan’ lilin-nya di dalam dada. Mereka tidak takut untuk berjalan, walaupun yang bisa dia lihat hanya 2 meter ke depan saja. Karena dia yakin bahwa yang dia impikan ada di sana, dan sedang menanti di sana. Jatuh, sakit, terpeleset, terbentur, hanya membawa kegembiraan. Baginya, itu semua adalah hiburan, bukti cinta kasih Allah terhadap yang berIman.

    Nantikan daku…dan kau pun kurengkuh.

     
  • rachmatg 6:59 am pada April 1, 2008 Permalink | Balas  

    UU ITE dan Pornografi 

    Komentar lagi, kali ini soal UU ITE dan PORNOGRAFI, habis rame kayaknya.

    Sebenarnya dua yang tidak berhubungan, tapi karena RUU ITE dijadikan UU, maka otomatis data elektronis dapat dijadikan bukti hukum. Web site yang mengandung content pornografi dapat dianggap ‘MEMBUAT, MENYIMPAN, dan MENYEBARKAN PORNOGRAFI’.
    Termasuk WARNET, bisa kena pasal MENYEBARKAN PORNOGRAFI.
    Komentar saya,
    Pertama, Allah tidak menghendaki pameran kejahatan (LA YUHIBBUL JAHRA BI SYUU-I). Pornografi adalah salah satu kategorinya. Kategori lainnya, adalah berita kejahatan, sinetron yang menyajikan kejahatan, film yang menyajikan kejahatan, dan buku dan iklan yang mendorong orang melakukan kejahatan. Thus, dukung Hak Menerima Informasi yang Bermanfaat.
    Kedua, ketika nabi Ibrahim meminta kepada Allah untuk memberikan kelimpahan pangan terhadap mereka yang beriman, Allah menegur, ‘Wa Man Kafara? Mereka juga kan berhak mendapat SEDIKIT kemelimpahan. Di sinilah, dalam kaitan dengan PORNOGRAFI, harus ada wadah buat mereka yang memang SUKA, entah gimana caranya, tapi juga menjamin Hak Menerima Informasi yang Bermanfaat bagi yang tidak SUKA. Misalnya, untuk masuk ke situs PORNO harus membaca kesepakatan, menjadi anggota, dll, alias harus ada upaya yang cukup susah.
    Ketiga, sebenarnya yang dilarang itu adalah MENDEKATI JINA. Kalau sudah JINA, itu sih tinggal dicambuk saja. Untuk mengimplementasikan LARANGAN MENDEKATI JINA, maka memang harus ada mekanisme untuk membatasi informasi yang dapat mengarah kepada JINA. Bagaimanapun juga AL ILMU IMAMUL AMAL, Informasi adalah panglima gerak.
    Saya justru melihatnya, bukan masalah situs porno lagi, tapi tayangan TV yang mendorong orang untuk mencari informasi pornografi itulah yang mesti diwaspadai.
    Well, selamat atas terbitnya UU ini. Mudah-mudahan semua bisa lebih baik.

     
  • rachmatg 4:43 am pada March 27, 2008 Permalink | Balas  

    Learning By Feeling 

    Ada yang bilang: Learning by Reading.
    Ada juga yang bilang: Learning by Doing.
    Saya baru mau bilang: Learning by Feeling.

    Kenapa? Memang ‘mengalami’ adalah sebuah pembelajaran yang baik. Pepatah bilang, pengalaman adalah guru terbaik. Pertanyaannya, apakah untuk memahami kesedihan kita harus mengalami kesedihan? Apakah untuk tahu sakitnya jatuh harus mengalami jatuh?

    Ternyata jawabannya ada, dan tidak harus begitu. Sebuah penelitian tentang response pikiran terhadap fisiologi tubuh menunjukkan bahwa seorang atlet yang diminta membayangkan dengan sungguh-sungguh ketika dia berlari sprint ternyata mengalami kenaikan denyut nadi seperti seseorang yang baru berlalu sprint. Ini menunjukkan bahwa pikiran (mind) bisa mempengaruhi fisiologi manusia.
    Yang menarik kemudian adalah, bahwa proses kebalikannya juga bisa terjadi, yaitu fisiologi bisa mempengaruhi pikiran. Sebuah penelitian lain untuk melihat response mereka yang berjalan sambil terbungkuk dan menunduk terhadap apa yang mereka pikirkan memperlihatkan gejala bahwa sikap berjalan membungkuk dan menunduk dapat mempengaruhi emosi dan pikiran positif. Mereka yang berjalan tegak dan tersenyum, memiliki optimisme yang lebih besar dari pada mereka yang berjalan membungkuk dan menunduk.

    Kembali ke Learning by Feeling, saya coba ambil kesimpulan bahwa Doing itu bisa dilakukan di dalam pikiran (mind). Salah satu tekniknya adalah dengan modeling, memodelkan peran yang mau kita pelajari dengan mempelajari apa yang terlihat (sikap, gaya bicara, dll) dan apa yang tidak terlihat (pikiran, kepercayaan, nilai-nilai, dll).
    Misalnya begini, kasus menjadi seorang pengusaha. Mitosnya, untuk jadi pengusaha kita harus bisa membuang rasa aman, misalnya mengalami ketiadaan uang, bangkrut, jatuh miskin, dll.
    Dengan Learning by Feeling, cara-cara seperti itu bisa dimodelkan di dalam pikiran, sehingga kita tidak perlu ‘benar-benar’ jatuh miskin. Dan tentu saja itu bisa menghemat waktu, tenaga, dan ‘uang’.
    Bagaimana rasanya Learning by Feeling? Kayak apa ya?
    Saya belakangan merasa, setiap kali membaca buku, yang bekerja bukan hanya otak ‘membaca’. Kayaknya badan saya kerap panas dingin. Apa ini ya model Learning by Feeling? Soalnya di Buku Blink, dijelaskan mereka yang belajar untuk melakukan snap judgement, awal mula yang mereka alami adalah gejala emosional (keringatan, panas dingin, gemetar, dll).
    Role model yang sering saya pake adalah nabi Muhammad. Betapa beliau dapat melakukan Learning by Feeling, yaitu ketika menerima wahyu, maka wahyu tersebut seakan diterima oleh seluruh sel di dalam tubuhnya. Akibatnya adalah darah mendesir, bulu kuduk meremang, jantung berdegup kencang, TAQSYA-IRUU JULUDU LADZIINA RABBAHUM.
    Tujuan saya membahas ini sebenarnya, gimana caranya Setiap kali diajukan Al Quran, maka gemetar tubuh ini, mendesir darah ini, bulu kuduk meremang, dll.
    Tapi, seperti yang dikatakan di Blink, kita harus dapat membedakan antara gairah dengan takut, marah dengan cemburu, dan lain-lain, karena ciri-ciri emosinya hampir sama.
    Intinya, bagaimana darah mendesir karena faham dengan apa yang dibaca, faham bukan hanya memenuhi logika tapi juga memenuhi keingintahuan emosional.
    So, let’s learn….

     
    • Elida 3:05 pm pada Januari 16, 2009 Permalink | Balas

      pak saya udah bayangin nich pake kalo nilai jarkom saya A. tapi gmn sama kenyataannya ya pak?? he….3x

      btw,gmn sich pak caranya biar Qta bisa sholat itu kusuk bgt? ga pa2 kan pak rada menyimpang

  • rachmatg 3:17 am pada March 13, 2008 Permalink | Balas
    Tags: Lingkungan   

    Bring Your Own Air 

    Kembali ke cita-cita lama, menjadi penganjur lingkungan. Saya kepikiran, gimana ya kalau setiap manusia di muka bumi ini ‘bertanggung jawab’ atas udara yang dihisapnya. Karena menghisap udara bersih adalah hak setiap umat manusia, maka setiap manusia pun bertanggung jawab untuk menyediakan udara bersih-nya sendiri-sendiri.

    Sebenarnya sudah lama kepikiran. Ide dasarnya adalah bahwa Tuhan telah mencipta dunia ini dengan demikian bersih. Kemudian manusia, berdasarkan subyektif-nya, melakukan pengotoran dan pengrusakan di muka bumi. Akibatnya, manusia harus menanggung ulah perbuatannya sendiri. Nah, sebagai ujud pertanggungjawaban manusia atas kelakuannya, saya mikir gimana kalau mulai sekarang kita sebagai manusia bertanggung jawab untuk memperbaiki kualitas lingkungan kita ini.

    Waduh, masih njelimet bahasanya ya. Intinya begini.

    • Misal kita menghitup udara selama 24 jam itu mengeluarkan gas CO2 sebanyak 24 x 60 x 30 x 20% x 1 liter = 8.6 kilo liter dan mengambil sekitar 9,4 kilo liter O2 dari udara
    • Bagaimana caranya kita bisa mengambil kembali CO2 yang kita keluarkan dan memproduksi O2 sebanyak itu sehari

    Jadi tentang apa nih? Kira-kira ini tentang KESEIMBANGAN. Kita sudah ambil dari alam sebanyak X, nah bagaimana kontribusi kita untuk mengembalikan X itu ke alam?

    Kepikiran saya, setiap orang harus BERTANGGUNG JAWAB atas sekian banyak POHON yang punya kemampuan menyerap CO2 dan memproduksi O2 sebanyak itu.

    Terus, kawan-kawan, tahukah Anda bahwa 35% pencemaran udara disebabkan oleh kendaraan? dan 25%-nya adalah dari kendaraan pribadi?

    Tahukah juga kawan-kawan bahwa pemeliharaan dan perawatan kendaraan (tune-up) dapat menurunkan kadar emisi karbon sampai 40%?

    Jadi, sebagai bukti tanggung jawab kita terhadap udara yang kita hirup, saya menyarankan:

    • kalau punya kendaraan, rutinlah lakukan perawatan
    • kalau kendaraan dinyalakan selama 3 jam/hari (pulang balik kantor-rumah), artinya: 3 jam x 60 menit x 2000 putaran/menit x 1000 cc = 360.000 liter emisi yang keluar
      • normalnya 2.5% adalah CO, 20% adalah CO2, dan 250 ppm Hidrokarbon.
      • jadi sehari kita mengeluarkan 9000 liter CO dan 72.000 liter CO2
      • PIKIRKAN BERAPA POHON YANG ANDA HARUS PERTANGGUNG- JAWABKAN untuk memperbaiki kerusakan yang telah Anda sebabkan pada alam ini.
      • Itu kalau Anda rajin merawat kendaraan. Kalau jorok, bisa lebih banyak dari itu :D

    Saya mau bikin campaign. Cuma belum tahu caranya. Mudah-mudahan kawan-kawan bisa bantu campaign ini. :D

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.