Updates from April, 2008 Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • rachmatg 8:13 am pada April 16, 2008 Permalink | Balas
    Tags:   

    Tipe Manajer Proyek 

    If you get in my way, I’ll kill you! – ideal project manager
    If you get in my way, you’ll kill me! – somewhat less than ideal project manager
    If I get in my way, I’ll kill you! – somewhat misguided project manager
    If I get in your way, I’ll kill you! – A tough project manager (eats glass, live cats, etc.)
    If get kill in will way I you. – dyslexic, functionally illiterate project manager
    I am the way! Kill me if you can! – messianic project manager
    Get away, I’ll kill us all! – suicidal project manager
    If you kill me, I’ll get in your way. – thoughtful but ineffective project manager
    If I kill you I’ll get in your way. – project manager who has trouble dealing with the obvious
    If a you getta ina my way, I gonna breaka you arm. – project manager from New York
    I am quite confident that there is nothing in the way, so no one will get killed. – project manager who is about to get in big trouble
    If you kill me, so what? If you get in my way, who cares? – weak, uninspired, lackluster project manager
    If you kill me, you’ll get your way. – pragmatic project manager
    If we get in each other’s way, who will get killed? – An utterly confused manager
    Kill me, it’s the only way. – every project manager to date.

     
  • rachmatg 7:27 am pada March 28, 2008 Permalink | Balas
    Tags: presentasi   

    Presentasi I dari kacamata seorang Penjual (Mengenal Konsumen) 

    Ini saya sarikan dari buku Dimensional Selling.

    Buku ini adalah hasil survey dan penelitian terhadap pelanggan, tenaga penjual, dan manajemen penjualan selama bertahun-tahun dan menghasilkan model dimensional untuk masing-masingnya. Setiap komponen dapat dipetakan ke dalam 2 sumbu atau 4 kuadran. Sumbu pertama menyatakan  Dominan-Patuh, sedangkan sumbu lain menyatakan Bermusuhan-Bersahabat.

    Kuadran Q1 = dominan – bermusuhan

    Kuadran Q2 = patuh – bermusuhan

    Kuadran Q3 = patuh – bersahabat

    Kuadran Q4 = dominan – bersahabat

    Ciri-ciri:

    Q1 : suka menentang, bermusuhan, percaya diri berlebihan, tidak mau bekerja sama, berargumen, menginterupsi, keras kepala, agresif, pindah dari satu keberatan ke keberatan lain, jujur menolak atau mencoba untuk menentukan persyaratan.

    Q2 : apatis, sulit dibaca, bermusuhan, tegang, diam, tidak acuh,  mengambang, ragu-ragu, memberikan tanpa keyakinan, membuat komitmen yang tidak jelas, atau menunda keputusan.

    Q3 : bersahabat, ramah, suka bicara, bersikap positif, selalu setuju, mendorong, tidak berkebaratan, antusias.

    Q4 : menerima perhatian, jujur, bekerja sama, perhatian, suka bertanya, profesional, keputusan didasarkan pada fakta.

    Nah, berdasarkan pengetahuan ini, di buku itu juga dijelaskan bagaimana menghadapinya.

    (tapi bagian 2-nya saya ambil dari buku lain lain. Buat yg mau pake ini, saya sudah jalankan ini dan praktekan ini. Hasilnya pun cukup memuaskan.)

     
  • rachmatg 4:18 am pada March 13, 2008 Permalink | Balas
    Tags: NLP Change   

    Menggunakan Teknik NLP dalam Proses IT Change Management 

    Ini pengalaman pribadi waktu implementasi IT di RS Moh Hoesin Palembang.

    Waktu mau implementasi IT Rumah Sakit, orang sana sampai memberi ‘peringatan’, “Pak, di sini Palembang, bukan Jawa. Orang di sini susah diaturnya.” Saya tanya ke dia, “Bapak emang orang mana?” “Orang Palembang.”, dia jawab :D . Kalau pake teori silogisme, sebenarnya dia mau bilang, “Saya susah diatur.” Tap, tak apa lah, sudah jadi tugas saya, apa pun caranya agar IT bisa diimplementasi di sana.

    Salah satu cara yang saya gunakan untuk mengubah perilaku orang secara seketika adalah NLP. Saya ingat apa yang dibilang Anthony Robbin, langkah pertama itu adalah ‘PATAHKAN POLANYA’. Pertama kali kelihatannya seperti membolak-balik omongan. Tapi itulah memang caranya. Itu memaksa orang untuk melihat dari perspektif yang berbeda.

    Misalnya, ada yang bilang,”Wah Pak, kalau pake aplikasi baru kayaknya lebih susah. Lebih enak pake aplikasi yang lama”. Saya jawab, “Iya bapak enak. Tapi yang lain jadi susah.” Nah lho, dia bingung. Saya teruskan aja, “Gara-gara bapak enak, orang akuntansi dan orang keuangan jadi kerja lebih susah.” Dia tambah bingung. Nah udah bingung git, baru saya bicara value, bahwa memberi kemudahan kepada orang lain adalah berpahala dan kalau berfikir sektoral (alih-alih ngomong, Lu Mentingin Diri Sendiri) sebaiknya dihindarkan dalam konteks operasi Rumah Sakit.

    Ada lagi yang bilang, “Pak, di aplikasi yang baru ini kok saya gak bisa ngisi data ini.” Saya bilang, “Apa itu memang tugas ibu?” Bingung dia. Saya terusin, “Itu kan tugas orang lain untuk ngisi, kenapa jadi ibu yang repot?”. “Iya soalnya di aplikasi lama begitu.”, katanya. Saya jawab, “Ibu pengennya direpotin kerjaan itu atau pengen lebih gampang?” “Ya lebih gampang”, dia bilang. “Makanya pake aplikasi yang baru. Pasti lebih gampang, gak usah ngurusin kerjaan yang harusnya dikerjakan orang lain.” “Soalnya kadang-kadang gak dikerjain.”, katanya. “Kalau ibu terus berbaik hati begitu, dia akan terus enak gak mau ngerjain. Biarin aja bosnya yang negur. Nanti keterusan.”, kata saya. Rupanya dia termakan juga. Akhirnya ramelah, pada nuntut supaya emang itu dikerjakan oleh bagian lain (yang memang seharusnya dia yang mengerjakan).

    Menarik juga, praktek NLP di dunia nyata. :D

     
  • rachmatg 3:44 am pada March 13, 2008 Permalink | Balas
    Tags:   

    Thinking Without Thinking (dari Buku Blink) 

    Mungkin aneh judulnya. Tapi itulah Blink.
    Sekedar ingin berbagi dengan kawan-kawan. Mudah-mudahan bermanfaat.

    • Kita ini punya dua macam otak, yaitu otak lojik dan otak emosional. Untuk mempelajari sesuatu, otak lojik memerlukan waktu lama. Sebaliknya, otak emosional dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih cepat. Response otak emosional sebagai output pembelajaran itu biasanya adalah berupa tanda-tanda emosi, seperti sakit perut, mual, berkeringat, nafas memburu, detak jantung bertambah, dan lain-lain. Thus, kalau menemui hal-hal seperti itu, mulailah waspada dan perhatikan, karena otak emosional kita mencoba menyampaikan sebuah pesan penting kepada kita. Pesan apakah itu? Itu tergantung kepada proses asosiasi neuron kita yang kita bangun sepanjang hidup. Tapi bisa juga kita kondisikan kok, dengan neuro asociative conditioning-nya Tony Robbin.
    • Otak emosional kita punya kemampuan belajar yang sangat cepat untuk menangkap gambaran visual ataupun auditif. Tapi kalau kemudian proses belajar itu dicoba untuk digambarkan dalam bentuk tekstual, yang terjadi adalah mind-shadowing. Ketika kita mencoba menggambarkan apa yang kita lihat ke dalam bentuk tekstual, maka setiap kata yang kita buat akan membentuk bayangan baru dalam otak emosional kita dan menutupi gambaran sebelumnya.
    • Proses belajar seperti itu disebut snap-judgement. Namun begitu, kita harus berhati-hati dalam melakukan snap-judgement, karena sering kali snap-judgement ini memberikan hasil yang keliru. Snap judgement ini ibarat mau mengenali gajah dari ekornya. Jadi kalau gak terbiasa megang ekor gajah, kemungkinan salahnya akan besar.
    • Kesalahan terbesar snap-judgement ini adalah karena kita tidak mampu menerjemahkan sinyal-sinyal emosi dengan benar. Misalnya, kita tidak bisa membedakan antara terkejut dengan tidak suka, antara marah dengan cemburu, antara takut dengan cemas, dan lain-lain.
    • Ini yang paling menarik kayaknya, breakthrough itu selalu menimbulkan tentangan dan hambatan. Kenapa? Karena orang lain yang tidak memahami pembentukan idenya, tidak mampu belajar dengan otak emosionalnya, sehingga tidak mampu membedakan antara perasaan terkejut dengan ide baru itu dengan perasaan tidak suka. Thus, mereka bilang tidak suka. Padahal sebenarnya mereka TERKEJUT. So, buat yang ingin melakukan breakthrough, jangan ragu! Teruskanlah, dan biarkan mereka belajar menerima sejalan dengan waktu. Banyak yang orang pada awalnya tidak suka, tapi kemudian menjadi pendukung setia.

    Kepikiran tentang manajemen proyek, Pak Ari menekankan dalam MP ini kita harus ikut framework PMBOK alias menggunakan berfikir sistematik. Menariknya, mungkin dalam kasus-kasus pengambilan keputusan di MP ini bisa kita gunakan snap judgement alias berdasarkan perasaan. Syaratnya, ya seperti di atas, harus sudah ahli. :D

    Belum lagi kalau ide proyek itu berupa barang baru sehingga ada resistensi. Bagaimana kita bisa memahami blink untuk menepiskan resistensi tersebut, itu kayaknya perlu sharing info dari yang pernah ketemu masalah ini.

     
    • ekazamov10 3:10 pm pada Maret 23, 2008 Permalink | Balas

      Maaf…apakah ini pa Rachmat Gunawan dari PT INTI ?? kalau bukan maaf Salam kenal saja

    • rachmatg 12:14 am pada Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Iya, ini saya Ka. Pa Kabar di KPK?

    • ekazamov10 10:14 am pada Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Kantor Baik2 saja Pa, Wah selamat yach pa bisa ngambil master di ITB, bener yach pa kuliah lagi ??

    • rachmatg 3:20 pm pada Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Iya Ka. Lumayan dibayarin Kominfo :D

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.