Kemarin main teka-teki dengan anak-anak, ‘Kenapa pohon di pinggir jalan, kalau sudah tua ditebang?’.
Kira-kira jawabannya apa?
Jawabannya, ‘Kalau dicabut kan susah?’
Judul di atas saya mulai dengan teka-teki, karena begitulah Blink. Konsep berfikir intuitif bermula dari premis bahwa manusia cenderung ‘berasumsi’ dan terjebak dalam prasangka tertentu. Maka, ketika diajukan teka-teki di atas, sebagian orang mungkin berprasangka pada persoalan ‘pohon tua di pinggir jalan.’ Sebagian lain mungkin berprasangka pada persoalan ‘ditebang’ (tapi sepertinya hanya sedikit yang langsung pada prasangka ini).
Ketika asumsinya, ‘Kenapa sebuah POHON TUA DI PINGGIR JALAN harus ditebang?’, maka otak kita mencari jawaban untuk PEMBENARAN atas tindakan MENEBANG. Tapi ketika asumsinya, ‘Kenapa sebuah pohon tua di pinggir jalan harus DITEBANG?’, maka otak kita mencari jawaban untuk ALTERNATIF selain DITEBANG.
Di sinilah masalahnya. Ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, terkadang asumsi kita terlalu sempit sehingga tidak bertemu dengan solusi kreatif. Itulah gunanya teman
. Kadang-kadang teman yang nyeleneh itu mampu memberikan perspektif lain yang mungkin buat kita tak sempat terpikirkan.
No Comments Yet