Learning By Feeling

Ada yang bilang: Learning by Reading.
Ada juga yang bilang: Learning by Doing.
Saya baru mau bilang: Learning by Feeling.

Kenapa? Memang ‘mengalami’ adalah sebuah pembelajaran yang baik. Pepatah bilang, pengalaman adalah guru terbaik. Pertanyaannya, apakah untuk memahami kesedihan kita harus mengalami kesedihan? Apakah untuk tahu sakitnya jatuh harus mengalami jatuh?

Ternyata jawabannya ada, dan tidak harus begitu. Sebuah penelitian tentang response pikiran terhadap fisiologi tubuh menunjukkan bahwa seorang atlet yang diminta membayangkan dengan sungguh-sungguh ketika dia berlari sprint ternyata mengalami kenaikan denyut nadi seperti seseorang yang baru berlalu sprint. Ini menunjukkan bahwa pikiran (mind) bisa mempengaruhi fisiologi manusia.
Yang menarik kemudian adalah, bahwa proses kebalikannya juga bisa terjadi, yaitu fisiologi bisa mempengaruhi pikiran. Sebuah penelitian lain untuk melihat response mereka yang berjalan sambil terbungkuk dan menunduk terhadap apa yang mereka pikirkan memperlihatkan gejala bahwa sikap berjalan membungkuk dan menunduk dapat mempengaruhi emosi dan pikiran positif. Mereka yang berjalan tegak dan tersenyum, memiliki optimisme yang lebih besar dari pada mereka yang berjalan membungkuk dan menunduk.

Kembali ke Learning by Feeling, saya coba ambil kesimpulan bahwa Doing itu bisa dilakukan di dalam pikiran (mind). Salah satu tekniknya adalah dengan modeling, memodelkan peran yang mau kita pelajari dengan mempelajari apa yang terlihat (sikap, gaya bicara, dll) dan apa yang tidak terlihat (pikiran, kepercayaan, nilai-nilai, dll).
Misalnya begini, kasus menjadi seorang pengusaha. Mitosnya, untuk jadi pengusaha kita harus bisa membuang rasa aman, misalnya mengalami ketiadaan uang, bangkrut, jatuh miskin, dll.
Dengan Learning by Feeling, cara-cara seperti itu bisa dimodelkan di dalam pikiran, sehingga kita tidak perlu ‘benar-benar’ jatuh miskin. Dan tentu saja itu bisa menghemat waktu, tenaga, dan ‘uang’.
Bagaimana rasanya Learning by Feeling? Kayak apa ya?
Saya belakangan merasa, setiap kali membaca buku, yang bekerja bukan hanya otak ‘membaca’. Kayaknya badan saya kerap panas dingin. Apa ini ya model Learning by Feeling? Soalnya di Buku Blink, dijelaskan mereka yang belajar untuk melakukan snap judgement, awal mula yang mereka alami adalah gejala emosional (keringatan, panas dingin, gemetar, dll).
Role model yang sering saya pake adalah nabi Muhammad. Betapa beliau dapat melakukan Learning by Feeling, yaitu ketika menerima wahyu, maka wahyu tersebut seakan diterima oleh seluruh sel di dalam tubuhnya. Akibatnya adalah darah mendesir, bulu kuduk meremang, jantung berdegup kencang, TAQSYA-IRUU JULUDU LADZIINA RABBAHUM.
Tujuan saya membahas ini sebenarnya, gimana caranya Setiap kali diajukan Al Quran, maka gemetar tubuh ini, mendesir darah ini, bulu kuduk meremang, dll.
Tapi, seperti yang dikatakan di Blink, kita harus dapat membedakan antara gairah dengan takut, marah dengan cemburu, dan lain-lain, karena ciri-ciri emosinya hampir sama.
Intinya, bagaimana darah mendesir karena faham dengan apa yang dibaca, faham bukan hanya memenuhi logika tapi juga memenuhi keingintahuan emosional.
So, let’s learn….