Mungkin aneh judulnya. Tapi itulah Blink.
Sekedar ingin berbagi dengan kawan-kawan. Mudah-mudahan bermanfaat.
- Kita ini punya dua macam otak, yaitu otak lojik dan otak emosional. Untuk mempelajari sesuatu, otak lojik memerlukan waktu lama. Sebaliknya, otak emosional dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih cepat. Response otak emosional sebagai output pembelajaran itu biasanya adalah berupa tanda-tanda emosi, seperti sakit perut, mual, berkeringat, nafas memburu, detak jantung bertambah, dan lain-lain. Thus, kalau menemui hal-hal seperti itu, mulailah waspada dan perhatikan, karena otak emosional kita mencoba menyampaikan sebuah pesan penting kepada kita. Pesan apakah itu? Itu tergantung kepada proses asosiasi neuron kita yang kita bangun sepanjang hidup. Tapi bisa juga kita kondisikan kok, dengan neuro asociative conditioning-nya Tony Robbin.
- Otak emosional kita punya kemampuan belajar yang sangat cepat untuk menangkap gambaran visual ataupun auditif. Tapi kalau kemudian proses belajar itu dicoba untuk digambarkan dalam bentuk tekstual, yang terjadi adalah mind-shadowing. Ketika kita mencoba menggambarkan apa yang kita lihat ke dalam bentuk tekstual, maka setiap kata yang kita buat akan membentuk bayangan baru dalam otak emosional kita dan menutupi gambaran sebelumnya.
- Proses belajar seperti itu disebut snap-judgement. Namun begitu, kita harus berhati-hati dalam melakukan snap-judgement, karena sering kali snap-judgement ini memberikan hasil yang keliru. Snap judgement ini ibarat mau mengenali gajah dari ekornya. Jadi kalau gak terbiasa megang ekor gajah, kemungkinan salahnya akan besar.
- Kesalahan terbesar snap-judgement ini adalah karena kita tidak mampu menerjemahkan sinyal-sinyal emosi dengan benar. Misalnya, kita tidak bisa membedakan antara terkejut dengan tidak suka, antara marah dengan cemburu, antara takut dengan cemas, dan lain-lain.
- Ini yang paling menarik kayaknya, breakthrough itu selalu menimbulkan tentangan dan hambatan. Kenapa? Karena orang lain yang tidak memahami pembentukan idenya, tidak mampu belajar dengan otak emosionalnya, sehingga tidak mampu membedakan antara perasaan terkejut dengan ide baru itu dengan perasaan tidak suka. Thus, mereka bilang tidak suka. Padahal sebenarnya mereka TERKEJUT. So, buat yang ingin melakukan breakthrough, jangan ragu! Teruskanlah, dan biarkan mereka belajar menerima sejalan dengan waktu. Banyak yang orang pada awalnya tidak suka, tapi kemudian menjadi pendukung setia.
Kepikiran tentang manajemen proyek, Pak Ari menekankan dalam MP ini kita harus ikut framework PMBOK alias menggunakan berfikir sistematik. Menariknya, mungkin dalam kasus-kasus pengambilan keputusan di MP ini bisa kita gunakan snap judgement alias berdasarkan perasaan. Syaratnya, ya seperti di atas, harus sudah ahli.
Belum lagi kalau ide proyek itu berupa barang baru sehingga ada resistensi. Bagaimana kita bisa memahami blink untuk menepiskan resistensi tersebut, itu kayaknya perlu sharing info dari yang pernah ketemu masalah ini.
Maret 23, 2008 at 3:10 pm
Maaf…apakah ini pa Rachmat Gunawan dari PT INTI ?? kalau bukan maaf Salam kenal saja
Maret 24, 2008 at 12:14 am
Iya, ini saya Ka. Pa Kabar di KPK?
Maret 24, 2008 at 10:14 am
Kantor Baik2 saja Pa, Wah selamat yach pa bisa ngambil master di ITB, bener yach pa kuliah lagi ??
Maret 24, 2008 at 3:20 pm
Iya Ka. Lumayan dibayarin Kominfo